Impuls
Dalam ilmu fisika kita mempelajari sebuah besaran bernama
IMPULS. Menurut teori, impuls (I) didefiniskan
sebagai hasil kali antara Gaya (F)
dan selang waktu (Δt). Dan diformulasikan sebagai I = F.Δt. Dari formulasi tersebut kita bisa
mengetahui bahwa, besar impuls yang diderita sebuah benda sebanding dengan
besar gaya impulsif (F) yang bekerja
pada benda tersebut dan selang waktu sentuh antara gaya impulsif dan benda
tersebut. Dalam kesempatan ini kita akan mengubah bentuk formulasi impuls
menjadi
dengan besar impuls (I)
konstan (tetap) maka besar gaya impulsif berbanding terbalik dengan selang
waktu sentuh-nya. Hal ini berarti semakin lama waktu sentuh, semakin besar
nilai
, maka gaya impulsif yang diderita benda tersebut menjadi
semakin besar.
Cobalah untuk memukul dua benda yang berbeda dengan besar gaya
relatif sama. Sebagai contoh, memukul tembok dan memukul bola basket. Ketika
memukul tembok, antara tangan dan tembok berinteraksi dengan sangat singkat,
hal ini dikarenakan tembok tidak bergerak. Antara tangan yang mendesak dan
tembok yang diam mengakibatkan waktu sentuh tangan dan tembok relatif cepat. Sedangkan
pada kasus memukul bola basket, waktu sentuh / interaksi tangan dengan bola
basket relatif lebih lama, hal ini dikarenakan bola basket akan terdesak ke
dalam oleh gaya yang diberikan tangan. Ada waktu bagi bola basket untuk bersama-sama
bergerak searah dengan arah gaya yang mendesaknya hingga akhirnya kemudian
berhenti besama. Hal inilah yang menjadikan memukul tembok dan memukul bola
basket menghasilkan rasa yang berbeda pada tangan kita.
Pelajaran apa yang bisa kita ambil?
Impuls telah mengajari kita beberpa hal yang bisa kita
aplikasikan dalam kehidupan kita sebagai manusia yang merupakan makhluk sosial.
Pertama,
impuls mengajari kita agar bersosialisasi dengan orang dan masyarakat di
sekitar kita. Dengan bersosialisasi, manusia menambah waktu interaksi (selang
waktu sentuh) dengan sesamanya. Lamanya interaksi ini akan berpengaruh kepada
kualitas pengetahuan, pengertian, dan pemahaman satu dengan yang lainnya. Jika
manusia sudah saling memahami maka jika suatu ketika ada benturan, mungkin
karena perbedaan pendapat atau prinsip, maka tidak akan terasa sakit. Tafahum.
Saling memahami menjadi kuncinya. Sebagai gambaran kita bisa membaca kembali sirah/ sejarah tentang perbedaan
pendapat sahabat antara Umar Ibn Khattab ra dengan Abu Bakar Ash-Shidiq, atau
antara Khalid Ibn Walid dengan Abdurrahman Ibn Auf.
Kedua,
impuls memberikan pelajaran mengalah. Mengalah untuk menghindari benturan pendapat,
prinsip atau bahkan benturan fisik yang keras antara manusia. Mengalah tidak
berarti kalah. Sikap mengalah merupakan tindakan yang tepat untuk menghindari
rasa sakit berlebih –perasaan maupun fisik- sebagai akibat dari perbedaan
pendapat tersebut. Sebagai contoh, kita bisa membaca ulang kisah perjanjian
Hudaibiyah.
Ketiga,
kita diajarkan untuk menjadi orang yang relatif fleksibel, tidak kaku, tidak saklek dalam hal ber-sosialisasi dengan
masyarakat. Selama tidak memasuki ranah prinsipil, maka seyogyanya kita
bersikap fleksibel. Hal ini untuk menghindari konfrontasi dengan orang lain.
Demikianlah,
salah satu ilmu sains telah memberi kita pelajaran untuk menjalani hidup lebih baik.
Semoga bermanfaat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar