Rabu, 10 Oktober 2012


Impuls
Dalam ilmu fisika kita mempelajari sebuah besaran bernama IMPULS. Menurut teori, impuls (I) didefiniskan sebagai hasil kali antara Gaya (F) dan selang waktu (Δt). Dan diformulasikan sebagai I = F.Δt. Dari formulasi tersebut kita bisa mengetahui bahwa, besar impuls yang diderita sebuah benda sebanding dengan besar gaya impulsif (F) yang bekerja pada benda tersebut dan selang waktu sentuh antara gaya impulsif dan benda tersebut. Dalam kesempatan ini kita akan mengubah bentuk formulasi impuls menjadi
dengan besar impuls (I) konstan (tetap) maka besar gaya impulsif berbanding terbalik dengan selang waktu sentuh-nya. Hal ini berarti semakin lama waktu sentuh, semakin besar nilai , maka gaya impulsif yang diderita benda tersebut menjadi semakin besar.
Cobalah untuk memukul dua benda yang berbeda dengan besar gaya relatif sama. Sebagai contoh, memukul tembok dan memukul bola basket. Ketika memukul tembok, antara tangan dan tembok berinteraksi dengan sangat singkat, hal ini dikarenakan tembok tidak bergerak. Antara tangan yang mendesak dan tembok yang diam mengakibatkan waktu sentuh tangan dan tembok relatif cepat. Sedangkan pada kasus memukul bola basket, waktu sentuh / interaksi tangan dengan bola basket relatif lebih lama, hal ini dikarenakan bola basket akan terdesak ke dalam oleh gaya yang diberikan tangan. Ada waktu bagi bola basket untuk bersama-sama bergerak searah dengan arah gaya yang mendesaknya hingga akhirnya kemudian berhenti besama. Hal inilah yang menjadikan memukul tembok dan memukul bola basket menghasilkan rasa yang berbeda pada tangan kita.
Pelajaran apa yang bisa kita ambil?
Impuls telah mengajari kita beberpa hal yang bisa kita aplikasikan dalam kehidupan kita sebagai manusia yang merupakan makhluk sosial. Pertama, impuls mengajari kita agar bersosialisasi dengan orang dan masyarakat di sekitar kita. Dengan bersosialisasi, manusia menambah waktu interaksi (selang waktu sentuh) dengan sesamanya. Lamanya interaksi ini akan berpengaruh kepada kualitas pengetahuan, pengertian, dan pemahaman satu dengan yang lainnya. Jika manusia sudah saling memahami maka jika suatu ketika ada benturan, mungkin karena perbedaan pendapat atau prinsip, maka tidak akan terasa sakit. Tafahum. Saling memahami menjadi kuncinya. Sebagai gambaran kita bisa membaca kembali sirah/ sejarah tentang perbedaan pendapat sahabat antara Umar Ibn Khattab ra dengan Abu Bakar Ash-Shidiq, atau antara Khalid Ibn Walid dengan Abdurrahman Ibn Auf.
Kedua, impuls memberikan pelajaran mengalah. Mengalah untuk menghindari benturan pendapat, prinsip atau bahkan benturan fisik yang keras antara manusia. Mengalah tidak berarti kalah. Sikap mengalah merupakan tindakan yang tepat untuk menghindari rasa sakit berlebih –perasaan maupun fisik- sebagai akibat dari perbedaan pendapat tersebut. Sebagai contoh, kita bisa membaca ulang kisah perjanjian Hudaibiyah.
Ketiga, kita diajarkan untuk menjadi orang yang relatif fleksibel, tidak kaku, tidak saklek dalam hal ber-sosialisasi dengan masyarakat. Selama tidak memasuki ranah prinsipil, maka seyogyanya kita bersikap fleksibel. Hal ini untuk menghindari konfrontasi dengan orang lain.
Demikianlah, salah satu ilmu sains telah memberi kita pelajaran untuk menjalani hidup lebih baik. Semoga bermanfaat.

Kamis, 05 Juli 2012


GRAVITASI

Sobat Nurul Ilmi, kali ini kami menghadirkan bahasan tentang Gravitasi. Tentunya sobat dah tahu apa itu gravitasi. Yup! Benar! Gravitasi adalah gaya tarik menarik antara dua atau lebih benda. Yang paling mudah kita ingat adalah cerita Simbah Newton kejatuhan buah apel ketika berteduh di bawah pohonnya. Kemudian Mbah Newton menyimpulkan bahwa pasti ada “sesuatu” yang menyebabkan buah apel tadi jatuh. (Bayangkan kalau kita yang kejatuhan, apa yang kita pikirkan ya?? :).
Selidik punya selidik, pikir punya pikir, hitung punya hitung, maka tersimpulkan oleh Mbah Newton, kalau buah tadi jatuh karena gaya tarik bumi alias gaya gravitasi bumi. Pun demikian dengan benda apa-pun, sekali lagi, benda apa-pun –termasuk manusia- yang ada di sekitar bumi dikenai gaya gravitasi bumi, yang efeknya adalah benda tadi ditarik ke arah pusat bumi.
Rumus gravitasi adalah
Hal ini berarti, semakin jauh jarak antara kedua benda (r) , semakin kecil-lah gaya gravitasi (g). Dan semakin besar massa (m) kedua benda, maka semakin besar-lah gaya gravitasinya. Ini menunjukkan ke-dua benda sama-sama melakukan gaya tarik.
Muncul pertanyaan, kenapa benda yang ditarik tidak “nyungsep” masuk tenggelam ke dalam tanah, akibat dari gaya tadi? Nah, itu karena gaya yang ada tidak cukup besar untuk menarik benda hingga masuk ke tanah, hambatan tanah terlalu besar. Beda halnya jika yang ditembus benda dengan kerapatan rendah, semisal air atau udara. Maka pastinya akan tertembus. Begitzu..
Itu tadi jika hanya ada dua benda yang berinteraksi, bagaimana jika banyak benda yang terlibat? Tentunya semakin banyaklah gaya tarik-menarik yang terjadi.
Kemudian ada pertanyaan muncul lagi. Pada benda yang bagaimanakah gaya gravitasi terjadi? Jawabannya adalah, pada semua benda. Bahkan terjadi pada bagian dari benda tersebut. Gravitasi menimpa pada partikel-partikel pembentuk benda. Inti atom sebagai bagian terkecil dari benda juga mengalami gravitasi. Neutron, proton dan elektron semua mengalami gravitasi. Ke-tiada-an salah satu atau dua diantara benda-benda yang terkait pada gravitasi tadi akan menyebabkan ketidak-seimbangan sistem yang terbentuk. Bisa jadi hancur-lah benda yang ada.
Coba kita lihat sistem yang lebih besar, semisal tata surya kita. Ada matahari sebagai pusat tata surya dikelilingi planet-planet, dan ada beberapa planet yang memiliki satelit yang berputar mengelilinginya. Belum lagi benda-benda langit di sekitarnya yang jumlahnya tidak mampu kita hitung. Semuanya mempunyai gaya tarik masing-masing, terhadap benda-benda di sekitarnya. Semuanya beredar begitu SEMPURNA. Tidak ada cela dan salah gerak sedikitpun. Subhanallah.
Sekarang kita bayangkan, bagaimana jika ada salah satu benda langit yang “mbalelo”, tidak taat aturan main tata surya kita? Misalkan bumi, karena dihuni oleh manusia, maka dia melakukan gerakan semaunya. Maka yang terjadi adalah keguncangan dan kehancuran. Tidak ada lagi keseibangan. Ruwet! MasyaAllah.
Sobat Nurul Ilmi, Allah SWT, melalui alam ciptaan-Nya ingin mengajarkan kepada kita dengan gravitasi.
Sobat, Gravitasi mengajarkan kepada kita beberapa hal, diantaranya :
1.               Bahwa hidup manusia seharusnya memang berjamaah, berkelompok.
2.               Bahwa hidup ini seharusnya saling memberi. Karena setiap orang mempunyai sisi positif maupun sisi negatif. Harus saling melengkapi.
3.               Untuk menjaga hubungan saling memberi tersebut dibutuhkan sikap saling menghargai, saling mengalah demi terjalinnya ukhuwah, persaudaraan yang sudah ada.
4.               Kita harus “memperkaya potensi” kita, agar semakin luas kemungkinan terjalinnya hubungan saling memberi tadi.
5.               Perlu usaha tambahan agar gravitasi semakin besar, yaitu dengan semakin mendekatkan diri dengan sebanyak mungkin manusia di muka bumi ini. Sesuai dengan hadits, khoirunnas anfauhum linnas, sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya kepada manusia yang lain.
Dan mungkin masih banyak lagi hikmah dari gravitasi yang belum bisa kami sampaikan, tapi cukuplah lima hal di atas mengajari kita untuk hidup lebih baik lagi. Agar hidup manusia bisa seperti seharusnya sesuai dengan sunnah Tuhan kita, Allah SWT. Semoga.
SALAM SAINS!